Sunday, February 22, 2009

Marilah Bekerjasama dalam Memperbaiki Kerusakan yang Dilakukan oleh Amerika dan Zionis

Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid am Ikhwanul Muslimin, 15-11-07

mari-bekerjasama.jpg

Bismillah wal hamdulillah, shalawat dan salam atas Rasulullah SAW… selanjutnya,

Islam saat ini sedang menghadapi fenomena perpecahan yang diciptakan oleh manusia, (perpecahan tersebut) memiliki tingkatan derajat: pemimpin dan yang dipimpin, mulia dan rakyat rendahan, orang kaya dan orang miskin, warna kulit dan apartheid, barat dan timur, kelompok Negara besar (maju) dan Negara kecil (berkembang), 5 negara anggota tetap yang memiliki peran dalam menguasai dan menjajah dunia merasakan akan kesengsaraan dan kesakitan terhadap Negara-negara lainnya.

Sebagaimana Rasulullah SAW pernah menyampaikan dengan ungkapan yang jika umat Islam dan non muslim mengetahui hakikat ungkapan tersebut, maka akan melangkah jauh ke depan, meletakkan lembaran-lembaran cahaya, seakan seperti kuda putih di tengah lembaga internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kepada mereka akan mengambil keputusan, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari diri kalian sifat kejahiliyahan dan mengagungkan nenek moyang, sesungguhnya manusia dari Adam dan Adam berasal dari tanah, tidak ada yang lebih utama bagi orang Arab atas Ajam (non arab) kecuali dengan taqwa”.

Jika hal ini telah tampak di permukaan, padahal Rasulullah SAW sejak awal telah memaklumkan akan risalah dakwahnya sebagai rahmat untuk seluruh manusia: “Dan tidaklah Kami utus engkau kecuali sebagai rahmat untuk semesta alam”. (Al-Anbiya: 107).

Manusia dalam Islam ada dua tipe:

Pertama:

Tipe yang percaya terhadap apa yang diyakini oleh kaum muslimin, baik agama dan kitabnya, percaya terhadap Rasulullah dan apa yang dibawanya. Mereka adalah kelompok yang memiliki keterikatan dengan kita, dan kita bekerja di jalan mereka, berkorban untuk melindungi mereka dan mengorbankan harta dan jiwa untuk mereka dimana saja mereka berada dan dari golongan dan kelompok mana saja mereka berasal. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. (Al-Hujurat: 10)

Kedua:

Tipe sebaliknya, mereka adalah kelompok yang kita berdamai dengan mereka selama mereka mau berdamai dengan kita, kita memberikan kebaikan untuk mereka selama mereka tidak memusuhi kita, kita percaya ada ikatan dengan mereka yaitu ikatan dakwah, sehingga selayaknya kita menyampaikannya kepada mereka seperti halnya sesama kita; karena dakwah merupakan kebaikan untuk manusia seluruhnya, berjuang untuk keberhasilan dakwah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh agama akan jalan dan sarana-sarananya. Dan barangsiapa memusuhi kami, maka kami akan mengembalikan permusuhan mereka dengan cara terbaik sesuai dengan permusuhan mereka. Allah berfirman: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim”. (Al-Mumtahanah: 8-9)

Islam telah mewasiatkan untuk melakukan kebaikan dan ihsan antar sesama manusia, meskipun berbeda akidah dan agama, sebagaimana telah diwasiatkan kepada Ahli kitab untuk berinteraksi dengan mereka secara baik, Allah berfirman: “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”. (Al-Maidah: 8 ). Dan hakikat yang terbaik adalah: “Bagi mereka apa yang diberikan untuk kami dan atas mereka apa yang diberikan atas kami”.

Di bawah naungan toleransi agama ini, negeri-negeri Islam menjadi tempat yang suci dan aman bagi Yahudi dan yang lainnya dari berbagai tekanan, mereka hidup di negeri-negeri Islam dengan damai dan aman, memberikan keuntungan niaga, berlimpah harta dan mendapat kedudukan yang tinggi dalam perlindungan dan penjagaan dari kaum muslimin.

Kaum muslimin yang berlaku ihsan terhadap hewan saat menyembelihnya tentunya tidak akan bertindak dzalim terhadap manusia, adanya non muslim dan tempat ibadah mereka di negeri kami merupakan saksi nyata akan ihsan dan kesempurnaan akhlak kaum muslimin, dibolehkannya orang Islam menikah dengan wanita ahli kitab dengan memberikan hak untuk beribadah sesuai keyakinannya, merupakan petunjuk yang kuat akan keagungan Islam dan toleransinya dengan pemeluk agama lain.

Wahai dunia yang sedang kebingungan… Wahai seluruh manusia… Wahai para pemimpin yang berakal… Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan kepada kita agama, hukum-hukum syariat, memudahkan segala urusan dan menjadikannya kebaikan sepanjang zaman dan tempat sehingga dapat diterima di seluruh dunia, menampakkan di dalamnya sisi kemanusiaan akan angan-angan dan cita-cita yang selalu dinanti-nantikan, dan prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran Islam menjadi kokoh secara sendirinya, berlimpah dengan kesuburan dan kesemangatan hidup, memiliki daya tarik dan pemikat oleh keagungan dan keindahannya, dan tentunya akan terus demikian karena merupakan kebenaran hakiki, bahkan hidup manusia akan rapuh dan tidak mampu berdiri tegak secara sempurna dan baik tanpanya, karena semuanya berasal dari yang Maha Mengetahui dan Maha Khabir… “Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (Al-Mulk: 14).

Kita telah beriman dengan keimanan yang tidak ada pertentangan dan keraguan di dalamnya, kita meyakini dengan keyakinan yang lebih kokoh dari gunung-gunung yang tinggi menjulang, bahwa tidak ada ideologi kecuali ideologi yang menyelamatkan dunia yang sedang tersiksa dan memberikan petunjuk akan kebingungan manusia hingga ke jalan yang lurus, yaitu agama Islam yang hanif yang telah disempurnakan dan dicukupkan oleh Allah SWT dan melatih manusia seluruhnya pada kebaikan: “Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Al-Maidah: 3).

Kami menggunakan kesempatan ini, menyampaikan dengan penuh keikhlasan kepada para pejabat dan orang yang berakal dari negara-negara Barat, dengan nasihat yang memberikan manfaat, jika sesuai maka hal tersebut merupakan kebaikan bagi mereka dan untuk seluruh manusia. Yaitu bahwa ideologi penjajahan jika pada masa dahulu yang telah menyebarkan kerugian di berbagai negara dan tempat, sehingga di masa yang akan datang akan menemui kegagalan. Hal ini guna mengingatkan perasaan dan membangunkan kesadaran bangsa, bahwa politik pemaksaan, penindasan dan kediktatoran di masa lalu tidak memberikan kebaikan, apalagi di masa mendatang, tidak mampu menguasai hati dan jiwa yang terjajah begitupun di masa mendatang akan lebih lemah, maka ambillah pelajaran dari sejarah wahai orang yang memiliki akal.

Bahwa politik tipu daya, penindasan dan politik standar ganda, jika pada saat tertentu memberikan ketenangan dan kenyamanan namun tidak menafikan akan adanya terjangan angin topan yang kuat dan keras, karena tampak jelas bahwa politik tersebut telah banyak memberikan kesalahan, permasalahan dan pertikaian, boleh jadi pada masa mendatang lebih lemah akan mencapai tujuan.

Jika demikian harus ada politik baru, yaitu politik saling tolong menolong dan persatuan yang jujur dan bebas, yang dibangun atas dasar persaudaraan dan saling menghormati, saling memberikan manfaat dan kebaikan secara materi, saling menghormati antar keluarga dan manusia sehingga mampu memperkokoh sistem yang baru dan menyebarkan keamanan dan kedamaian.

Pemerintahan yang diktator dan kekerasan telah berlalu, Barat dan Amerika setelah ini tidak akan mampu menguasai Timur dengan besi dan api, tidak akan mampu menancapkan kaki mereka dan membuat keputusan atas bumi kami, dan sejarah dalam waktu dekat atau jauh merupakan saksi atas kebenaran ucapan kami, bahwa para perampas dan penjajah tidak akan pernah kekal, setiap bumi yang dijajah pasti akan melakukan perlawanan. Sungguh kisah dan sejarah negara Inggris, Perancis, Italia, Belanda, Portugal terhadap negeri-negeri yang dijajah tidak akan hilang dari kenangan, dan bekas-bekasnya akan menjadi saksi nyata bagi siapa yang memiliki hati dan pendengaran sementara dia menyaksikannya.

Bukanlah kami saja yang mengatakan ini namun sebagian dari para petinggi dan pejabat Barat juga mengatakan demikian, kami sampaikan nasihat ini kepada para pejabat negara-negara penjajah yang berakal, kepada para penguasa di seluruh dunia; nasihat yang memberikan manfaat lebih banyak dari hanya sekedar tuntutan yang memberikan maslahat kepada kami, maka dipersilahkan mengambilnya atau meninggalkannya. Kami telah memantapkan jiwa untuk hidup dengan mengagungkan kebebasan, kemerdekaan atau mati dalam keadaan mulia dan suci, kami tidak mau merampas hak orang lain dan tidak seorangpun boleh mengingkari hak kami.

Sungguh sangatlah baik jika setiap umat hidup saling tolong-menolong dan bergotong royong daripada hidup saling berlomba dengan yang lainnya sepanjang masa mengobarkan revolusi di dalam negeri yang terampas, dan memercikkan api peperangan antar negara yang saling berlomba… hanya dengan ini dunia akan meraih kemenangan, saling tolong menolong yang mulia dan perdamaian yang panjang.

Adapun bentuk unshuriyah (aphartheid), kedzaliman dan kediktatoran telah memberikan beban yang berat – dan akan terus menjadi beban - terhadap dunia dengan harga yang sangat mahal… jiwa yang mati, darah yang tumpah, kehormatan yang dihinakan, hurumat (larangan-larangan) yang dilanggar, harta yang dikorbankan, semuanya dikeluarkan oleh negara-negara yang memusuhi dan dimusuhi, walaupun dari kalangan yang dimusuhi lebih banyak, bersamaan dengan bumi yang dijajah, keluarga yang dicerai beraikan, SDA (sumber daya alam) yang dirampas, tempat-tempat suci yang dinistakan, dan cukuplah para saksi dengan mengalihkan mata dua kali terhadap negeri Palestina, Irak, Afghanistan, Somalia, Chechnya, Kasymir, Bosnia dan Herzegovina dan Kosovo, sementara Sudan dan Lebanon serta negara-negara lainnya sedang menunggu agenda berikutnya!!

Wahai para pejabat yang berakal…

Dengan berbagai banyak kerugian; baik jiwa, kehormatan, harta dan bumi, kami ingin bertanya kepada kalian: Inginkah kalian mengembalikan negeri-negeri yang telah terampas kepada pemiliknya? Inginkah kalian mengembalikan para pengungsi dan orang-orang yang terlantar ke negara dan rumah mereka masing-masing? Apakah kalian merasa tenang dan aman dengan kondisi ini? Apakah dapat dinikmati ketenangan dan kedamaian oleh negara-negara yang kalian perangi? Merasa tenangkah wahai kalian para perampas dan penjajah negara Palestina, Irak dan Afghanistan?

Wahai sekalian manusia, sungguh hal ini tidak akan terwujud dan selamanya tidak akan terwujud bahkan seluruh dunia akan merasakan kerugian di bawah cengkraman kedzaliman para pelaku dzalim dan pembantai dari Zionis Yahudi dan Amerika, yang masyarakatnya terus dihantui ketakutan dan kekhawatiran, bahkan jiwanya akan selalu merasa tidak aman di mana saja berada dan bergerak, bahkan jiwa mereka terlantar dan terusir menjadi pengungsi di alam terbuika, tidak ada tempat berteduh dan tidak ada makanan dan minuman disana…

Amerika dan Zionis sedang membahas masalah perdamaian dan keamanan namun di sisi lain menyebarkan ketakukan dan kekhawatiran, membahas tentang keadilan menurut versi mereka sendiri yang hanya akan menambah kedzaliman, membahas masalah kasih sayang dengan menyerang orang yang berusaha tetap tinggal dan mengepung rakyat dengan membunuh anak-anak, wanita dan orang tua, mereka akan kembali seperti itu setelah pengalaman yang panjang, pengorbanan yang besar, kegagalan yang pahit, angan-angan yang hilang dan kehormatan yang sakit.

Para pemimpin pemerintah dunia baru telah mengalami kesesatan yang hanya menggembar-gemborkan kedamaian, mewujudkan keadilan, menebarkan kasih sayang dan menerapkan persamaan di antara anak cucu Adam tanpa melihat kebangsaannya, jenis kelaminnya, warna kulitnya dan akidahnya tanpa ada realita yang sesungguhnya.

Kami Ikhwanul Muslimin… menyampaikan kepada dunia sebotol obat yang mampu membersihkan dunia dari penyakitnya dan menghilangkan segala penderitaannya…

Kami mengajak para penguasa dan para pejabat dunia, marilah kita bentangkan tangan satu sama lainnya; untuk menghentikan tumpahan darah yang mengalir, menjaga uang bermilyar-milyar dollar yang dikeluarkan setiap detik hanya untuk perang, mengembalikan mereka yang terlantar dan mengungsi ke rumah mereka masing-masing, menyelamatkan manusia dari kejahatan dan orang-orang jahat, kerusakan dan pelaku kerusakan, kedzaliman dan pelaku kedzaliman, yang kesemuanya telah dilakukan oleh Amerika dan Zionis Yahudi, para penyulut perang di setiap tempat dan waktu… “…Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan” (Al-Maidah: 64).

Kami para penyeru kedamaian dan perdamaian, berusaha mewujudkan kembalinya hak-hak kepada para pemiliknya, hengkangnya para perampas dan penjajah dari bumi yang mereka rampas, bekerja sama dengan seluruh umat manusia untuk mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan, menegakkan keadilan, menyebarkan keamanan dan ketenangan di bumi yang makmur dan untuk semua makhluk Allah… Apakah ada yang ingin ikut dan menjawab seruan kami?! Hanya Allah yang mengetahui tujuan ini dan Dialah yang memberi jalan petunjuk.

Salawat dan salam semoga selalu tercurah pada nabi kita Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabat, dan segala puji hanya milik Allah Tuhan Semesta Alam.

Friday, February 13, 2009

Berhenti sejenak : Meraih Shibghoh (celupan) Allah

Suatu kisah, ada sekelompok manusia datang kepada orang yang pandai nan bijak (baca:Ulama).

Sekolompok orang : Wahai pak tua yang baik, bagaimana menurut pendapatmu tentang suatu hal tentang perkara ini dan itu. Ada sebagian dari kami membolehkannya, ada sebagian dari kami melarangnya. Mana kira2 yang benar ?

Ulama : Saudara-saudara, untuk masalah itu gampang jawabannya dan mudah. lihatlah dengan panca indra yang engkau semua miliki yang diberikan oleh Allah niscaya kamu akan menemukan jawabannya.

Sekelompok orang : Loh ? ....(sambil melongo dan heran dengan jawaban enteng dari pak tua) Kami sudah melihat dengan panca indra kami, malah kami asah otak kami untuk menemukan jawaban yang pasti dan benar. Kami cari di beberapa buku yang kami miliki, dan kami berdiskusi lebar dengan masalah ini. Akan tetapi tidak kami temukan juga jawabannya. Pak tua, apa kira2 jawabannya ? Kami memerlukan segera sekarang juga !

Ulama : Maaf, tidak akan saya berikan sekarang. Karena diantara kamu akan ada yang setuju dan diantara kamu lagi ada yang tidak setuju, malah mungkin menentangnya. Kamu akan tahu jawabannya, seandainya kamu sekalian bersama aku di tempat ini selama 1 bulan penuh dan mengikuti apa yang aku lakukan.

Setelah berembuk dan merenung sebentar, sekelompok orang itu menghadap ulama kembali.

Sekelompok orang : Ok, pak tua yang bijak, kami akan mengikutimu sebagaimana engkau lakukan. Dan mematuhi apa2 yang engkau anjurkan.

Ulama : Siip... (sambil tersenyum simpul)

Tidak terasa sebulan berlalu.....berkumpullah sekelompok orang itu dengan posisi mengelilingi ulama tua. Terlihat kekhusukan di wajah setiap orang. Semua diam menunggu petuah dari ulama tua, yang biasa diberikan sesudah shalat subuh.

Ulama : Saudara-saudaraku semua yang dirahmati Allah, sekarang saatnya saya memenuhi janji yang pernah saya ucapkan sebulan yang lalu. Sudahkah engkau menemukan jawaban tentang perkara yang engkau tanyakan sebulan yang lalu ? Sudahkah engkau melihat jawaban dari pertanyaan kamu sekalian sebulan yang lalu ?

Sekelompok orang : Ya, ustadz yang dirahmati Allah .... (agak sedikit lain ternyata memanggil pak tua ini, dibanding ketika waktu datang pertama kali) Bukan hanya kami sudah menemukan jawabannya dari pertanyaan kami, malah kami merasa lebih beriman dan tunduk dihadapan hukum2-Nya. Hati kami lebih tentram dan bahagia. Dan kami selalu ingat akan ayat2-Nya. Maka tidak ada waktu bagi kami untuk bertanya lagi tentang hal itu, apalagi mengikutinya lagi. Kami selalu khawatir dengan ayat-ayat-Nya yang terasa ditujukan kepada kami,

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal salih) untuk hidupku ini'(QS. al-Fajr : 23-24).

Ulama : Alhamdulillah ...bagus ...bagus...bagus...(sambil meniru gaya pak Tino Sidin) Apakah kamu masih sanggup mengerjakan hal-hal seperti yang kita lakukan selama ini ?

Sekelompok orang : Alhamdulillah, ustadz ...kami sanggup dan kami ingin tambah lagi porsinya dari hal yang tujuh macam yang selalu engkau ajarkan kepada kami.

1. Baca Alqurannya minimal sehari 1 juz, sehingga ketika ayat2 Allah dibaca bergetar hatinya, bertambah imannya. Terlihat dimata bathinnya itu suasana akhirat dan dunia 2. Setiap malam shalat malam, mohon ampunan dan keselamatan dunia dan akhirat, sehingga selalu sibuk hatinya dengan urusan akhirat. 3. Puasanya senin kamis tiap pekan karena takut akan ketamakan diri. 4. Selalu menyebarkan kebaikan dengan berdakwah di sekelilingnya. 5. Tidak lupa mendoakan orang2 mukmin di tanah2 mereka yang sedang kesulitan 6. Selalu menyisihkan sebagian dari hartanya karena takut hartanya menjadi bahan bakar di akhirat kelak. 7. Selalu berkata yang baik dan benar, lidah/tulisan-nya terjaga dari menyakiti hati orang lain baik yang sengaja atau tidak.

Ulama : Saudara-saudara sekalian itulah hidayah Allah, mata kalian semakin jelas melihat mana yang baik dan mana yang buruk, dan Insya Allah yang riya sekecil-kecil riya pun dapat kamu lihat. Janganlah kamu merasa bosan dengan kebaikan yang kamu lakukan, insya Allah akan aku ajarkan tentang kebaikan2 yang lain. Pengabdian yang menempatkan kita sebagai muslim, sebagai hamba Allah yang siap untuk disibghoh (dicelup) oleh nilai ilahiyah, sebagaimana firman-Nya : Shibghoh (celupan) Allah. Dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada (celupan) Allah? Dan hanya kepada-Nya kami mengabdi.(QS. 2: 138) Semoga hati kamu sekalin telah tercelup dengan celupan Allah, sehingga warna-warna yang Allah kehendaki, menempel pada hati kamu sekalian.

Sambil menutup tadzkiroh singkat pada pagi itu, kemudian mereka berdoa bersama-sama.

--- Selesai ---

Saudara2 sekalian, peristiwa seorang ulama dan sekelompok orang ini, menggambarkan realitas kehidupan orang-orang jaman ini. Hatinya belum siap menerima Islam, tapi dia tanyakan sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan Islam. Dia ingin mendapatkan jawaban suatu masalah dengan membenturkan hukum-hukum Islam. Maka ketika dia mendapatkan jawaban yang Islami, hatinya pun tidak siap dengan jawaban itu. Sehingga yang timbul adalah pertentangan yang kuat dengan hukum2 Islam itu sendiri. Terasa asing di hatinya dengan hukum Islam yang ada. Dan tidak cocok dengan kehidupan yang dia yakini selama ini. Dan yang paling parah lagi, dia lawan hukum Islam itu sendiri dengan asumsi sempit yang dia pahami dan miliki.

Saudara2 sekalian, kita semua sekarang ini dalam proses untuk menuju kehidupan yang lebih abadi(langgeng) Dalam menjalani proses menuju ke keabadian itu, manusia diuji dengan berbagai macam persepsi yang kelak sesungguhnya tidak mempunyai realitas. Persepsi-persepsi ini secara intens dihadirkan dengan menarik dan memikat. Hatinya menjadi nyaman dan tentram, seolah-olah itu adalah nikmat yang paling "DAHSYAT" di muka bumi ini. Sehingga hatinya terpukau, seolah-olah itu adalah segala-galanya di kehidupan ini.

Dalam hal ini, Al-Qur'an mengingatkan kepada kita semua,

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-bintang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (sorga) (QS. Ali Imran: 14).

Sunday, February 8, 2009

JANGAN JADIKAN AIR ITU BERHENTI..!!!!!


Kalau hal itu kita ibaratkan sebagai air yang mempunyai potensi besar untuk menerjang apa saja, maka debur aliran air itu tiada pernah berhenti. Kalau Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 195 itu kita hubungkan dengan pengibaratan air ini, kita bisa katakan bahwa justru kalau air itu berhenti, dan tidak lagi mengalir, maka air itu akan menjadi rusak, kotor, sarang nyamuk, dan bau serta berubah warnanya. Begitu juga dengan potensi jihad yang ada pada kita. Bila potensi jihad itu kita berhentikan, baik jihad da’awi, jihad ta’limi, jihad irsyadi, jihad tarbawi, jihad bina-i (jihad membina), jihad qitali dan jihad-jihad lainnya, maka potensi itupun akan bernasib sama dengan air itu. Karenanya wajar bila Allah swt memperingatkan para sahabat akan datangnya tahlukah kepada mereka bila mereka meninggalkan jihad, dan menyibukkan diri dengan urusan pertanian dan perkebunan.

Perang Ahzab atau perang Khandaq adalah pertempuran yang sangat melelahkan. Memang pertempuran dalam arti saling bunuh membunuh dalam jarak dekat tidak banyak terjadi. Namun, 10000 pasukan multinasional yang mengepung Madinah telah membuat kaum muslimin tidak sempat melakukan shalat Zhuhur, Ashar, dan Maghrib secara ‘normal’. Bahkan hanya sekedar kencing saja juga tidak sempat.

Selesai perang yang sangat melelahkan secara phisik dan psikis ini, Rasulullah saw hendak beristirahat barang sejenak. Karenanya, beliau sarungkan dan gantungkan pedang dan senjata beliau. Namun Allah swt tidak menginginkan beliau dan kaum muslimin beristirahat. Karenanya, Allah utus malaikat Jibril as kepada Rasulullah saw. Sambil tetap berada di atas bighal, malaikat Jibril as berkata: Sepertinya engkau sudah meletakkan senjatamu, wahai Rasulullah saw? Sesungguhnya para malaikat belum meletakkan senjata mereka .... (Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam). Riwayat ini menggambarkan kepada kita agar kita tidak berhenti dari berjihad.

Pada suatu hari, ada beberapa orang Anshar sedang berkumpul-kumpul. Mereka saling berkata diantara mereka: Sekarang Islam telah jaya, telah eksis, dan telah kokoh. Sebaiknya kita kembali ke ladang-ladang kita, kebun-kebun kita, kita urus lagi harta kekayaan kita yang selama ini terbengkalai dan kita garap lagi lahan-lahan itu dengan serius, lahan yang selama ini telah kita tinggalkan dalam rangka berjihad fi sabilillah, dan hasilnya toh kita infaqkan fii sabilillah juga, sementara jihad di medan laga biar ditangani oleh saudara-saudara kita lainnya. Maka Allah swt menurunkan : “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Baqarah: 195). Riwayat yang satu ini menggambarkan kepada kita bahwa kehancuran atau kebinasaan (istilah Al Qur’annya ‘tahlukah’) adalah karena meninggalkan jihad.

Kalau dua riwayat ini kita hubungkan dengan sirah Rasulullah saw lainnya, kita akan temukan angka-angka berikut :

§ Peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah saw secara langsung (ghozwah) ada 26 ghozwah.

§ Peperangan yang tidak dipimpin oleh Rasulullah saw secara langsung (sariyyah) ada 38

sariyyah.

Maka kita akan dapat menarik satu kesimpulan bahwa manuver Rasulullah saw dan para sahabatnya itu tiada henti dan tanpa putus. Bagaimana tidak, waktu yang kurang lebih sepuluh tahun itu terisi oleh peperangan 64 kali peperangan. Sungguh, sebuah manuver yang menggambarkan betapa Rasulullah saw dan para sahabatnya senantiasa menumpahkan segala potensi dan kemampuan yang dimilikinya secara maksimal dan tiada henti, sehingga tidak ada waktu lagi untuk bersitirahat dan meng-andai-andaikan hal-hal yang sifatnya duniawi.

Kalau hal itu kita ibaratkan sebagai air yang mempunyai potensi besar untuk menerjang apa saja, maka debur aliran air itu tiada pernah berhenti. Kalau Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 195 itu kita hubungkan dengan pengibaratan air ini, kita bisa katakan bahwa justru kalau air itu berhenti, dan tidak lagi mengalir, maka air itu akan menjadi rusak, kotor, sarang nyamuk, dan bau serta berubah warnanya. Begitu juga dengan potensi jihad yang ada pada kita. Bila potensi jihad itu kita berhentikan, baik jihad da’awi, jihad ta’limi, jihad irsyadi, jihad tarbawi, jihad bina-i (jihad membina), jihad qitali dan jihad-jihad lainnya, maka potensi itupun akan bernasib sama dengan air itu. Karenanya wajar bila Allah swt memperingatkan para sahabat akan datangnya tahlukah kepada mereka bila mereka meninggalkan jihad, dan menyibukkan diri dengan urusan pertanian dan perkebunan.

Firman Allah swt diatas dipertegas juga oleh hadits Rasulullah saw yang menyatakan : “Jika kalian telah berjual beli secara ‘inah (rekayasa dan akal-akalan dalam praktek riba), kalian telah mengambil ekor sapi dan puas (asyik) dengan pertanian serta meninggalkan jihad, niscaya Allah swt akan menjadikan kehinaan menguasai kalian yang tidak akan dicabut sehingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR Abu Daud dan Ahmad, dan DR. Nashirud-Din Al Albani menilainya hasan).

Berkenaan dengan hal ini simaklah apa yang dikatakan oleh Sayyid Qutub dalam salah satu bukunya :

Yang demikian ini karena, hakikat iman tidak akan sempurna dalam hati, melainkan setelah :

1. Bermujahadah dalam menghadapi orang banyak dalam urusan iman ini

a. Mujahadah dengan hati; bentuknya: membenci kebatilan mereka, jahiliyyah mereka dan bertekad memindahkan mereka dari kebatilan dan jahiliyyah itu kepada kebenaran dan Islam.

b. Mujahadah dengan lisan; bentuknya:

- Tabligh.dan bayan (penerangan).

- Menolak kebatilan mereka yang merupakan kepalsuan itu.

- Menegaskan kebenaran yang dibawa Islam.

c. Dan mujahadah dengan tangan atau fisik; bentuknya: menolak dan menyingkirkan mereka-mereka yang melakukan penghadangan terhadap jalan hidayah dengan mempergunakan kekuatan yang melampaui batas dan penghancuran yang curang.

2. Merasakan melalui mujahadah-nya itu:

a. Ujian (ibtila’ atau tribulasi) dan rasa sakit.

b. Bersabar atas ibtila’ dan rasa sakit itu.

c. Bersabar atas kekalahan, dan

d. Bersabar atas kemenangan, karena, bersabar atas kemenangan lebih berat (sulit) dari pada bersabar atas kekalahan. Kemudian ?

1. Tetap tsabat (tegar) dan tidak ragu-ragu, istiqamah dan tidak menolah-noleh dan terus maju dalam meniti jalan iman dengan terus menanjak dan tidak tersesat.

Hakikat iman tidak sempurna dalam hati sehingga menghadapkannya untuk mujahadah menghadapi orang banyak dalam urusan iman ini. Sebab, saat ia mujahadah menghadapi orang banyak itu sesungguhnya:

  • Ia sendiri sedang bermujahadah melawan dirinya sendiri.
  • Akan terbuka baginya wawasan dan pemandangan keimanan yang tidak pernah terbuka baginya selamanya bila ia hanya duduk (diam) dengan aman dan tenang.
  • Akan jelas baginya hakekat-hakekat tentang manusia dan kehidupan yang belum pernah manjadi jelas baginya selamanya tanpa adanya wasilah (sarana) ini.
  • Ia sendiri -dengan jiwanya, segala perasaannya, persepsi-persepsinya, kebiasaannya,tabiatnya, emosinya dan responnya- akan sampai pada sesuatu yang tidak mungkin sampai kepadanya tanpa pengalaman berat dan sulit ini.

Inilah sebagian dari yang diisyaratkan firman swt: “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” (QS Al Baqarah: 251). Dan kerusakan yang pertama kali terjadi adalah kerusakan jiwa manusia (nafsul insan), kerusakan yang terjadi karena rukud (diam, tidak bergerak, atau istilahnya berharakah, tidak mengalir), rukud yang menyebabkan:

a. ruhnya membusuk akibat adanya stagnasi

b. Himmah (semangat)-nya istirkha (mengendor, lembek, loyo, tidak kenceng).

c. Nafs (jiwa)-nya rusak dikarenakan adanya rakha (bergelimangnya harta dunia) dan tharawah (tidak teruji dan terlatihnya jiwa itu dengan hal-hal yang berat).

Yang pada akhirnya seluruh kehidupanpun menjadi rusak gara-gara rukud tadi. Atau karena hanya bergerak pada bidang syahwat saja, sebagaimana yang terjadi pada bangsa-bangsa yang mendapatkan cobaan dalam bentuk kemewahan hidup. (Lihat : Hadzad-diin, Sayyid Qutub, hal: 12 - 13)

Thursday, February 5, 2009

BERDAYALAH UNTUK ISLAM!


Makna Tarbiyah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunnahnya. Sebab kalau mau, para Sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus-menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di Masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Mala, tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.

Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya : Wal takum minkum ummatuy yad'una ilal khair. Atau dalam firman-Nya : Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaas (QS : Ali imran : 110). Ummat yang baik tidak untuk disembunyikan tetapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya.

Jangan lagi ada kader yang mengatakan, saya jadi buruk begini karena lingkungan. Mengapa tidak berkata sebaliknya, karena lingkungan seperti itu, saya harus mempengaruhi lingkungan itu dengan pengaruh yang ada pada diri saya. Seharusnya dimanapun dia berada ia harus berusaha membuat kawasan-kawasan kebaikan, kawasan cahaya, kawasan ilmu, kawasan akhlaq, kawasan taqwa, kawasan al haq, setelah kawasan-kawasan tadi menjadi sempit dan gelap oleh kawasan-kawasan jahiliyah, kezhaliman, kebodohan dan hawa nafsu. Demikianlah ciri kader, dimanapun dia berada terus-menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da'wah ini, tumbuh dari seseorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau berjuta-juta orang.

Sangat indah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna,Antum ruhun jadidah tasri fi jasadil ummah. Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al Qur'an. Jangan ada sesudah ini, kader yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Tapi, dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah SWT., ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah SWT., baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemanapun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing karena Allah senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan Rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa.

Kehebatan Namrud bagi nabi Ibrahim AS tidak ada artinya, tidaklah sendirian. Allah bersamanya dan alam semesta selalu bersamanya. Api yang berkobar-kobar yang dinyalakan Namrud untuk membinasakan dirinya, ternyata satu korps denganya dalam menunaikan tugas pengabdian kepada Allah. Alih-alih dari menghanguskanya, justeru malah menjadi bardan wa salaman (penyejuk dan penyelamat). Karena itu, kader sejati yakin bahwa Allah SWT akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang da'wah sesuai dengan janji-Nya, intanshurullah yan shurkum wa yutsabbit aqdamakum (jika kamu menolong Allah, Ia pasti menolongmu dan mengokohkan langkahmu).
Semoga para kader mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT di tengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah SWT dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri dalam benteng-benteng kekuatan usrah atau halaqah tempat junud da'wah melingkar dalam satu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan. Disanalah kita mentarbiyah diri sendiri dan generasi mendatang. Inilah sebagian pelipur kesediaan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru. Generasi yang siap memikul beban da'wah dan menegakkan Islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Al Qur'an dan cahaya Islam rahmatan lil alamin.

Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina
(ALMARHUM Ust KH Rahmat Abdullah)
- ALMARHUM KH RAHMAT ABDULLAH