Sunday, October 5, 2008

Keteladanan Masyaikh Da’wah kita


Imam As-syahid Hasan al-Banna, figur murabbi yang satu ini sudah barang tentu tidak asing bagi kita, juga bagi seluruh aktifis da’wah dan harakah islamiyah di mana saja berada. Adalah pantas bila beliau merupakan salah seorang sosok figur murabbi teladan abad.



Keteladanan Imam Hasan al-banna dapat disimpulkan dari pendekatan da’wahnya ke berbagai lapisan masyarakat, prinsip-prinsip pendekatan da’wah yang diisyaratkan dalam hadits Rosululloh SAW seperti : “khoothibinnaasa ‘alaa qodri ‘uqulihim”, “khotibinnaasa ‘ala lughati qaumihim” (Ajaklah berbicara kaummu sesuai dengan kemampuan akal mereka, ajaklah berbicara kaummu sesuai dengan gaya bahaasa mereka). Tampak sekali hal ini dilakukan oleh beliau dalam menyemai benih-benih tarbiyah di tengah-tengah masyarakatnya.



Ketika beliau menetap di Ismailiyah, yang terkenal sebagai kota pelabuhan, di mana banyak buruh-buruh pelabuhan menghabiskan waktu malamnya dengan nongkrong di kedai-kedai kopi, dari sinilah beliau memulai da’wahnya, beliau mengadakan pendekatan yang sangat hati-hati dan perlahan, beliau menyampaikan hal-hal yang bersifat umum seperti ingat kepada Alloh dan hari akherat, tidak konfrontatif, penyampaian da’wah dikemas dengan sederhana, diselingi dengan bahasa ‘amiyah (pasaran), diselingi dengan cerita dan ilustrasi, dan lamanya hanya sepuluh menit atau paling laama seperempat jam.



Al-Ustadz umar Tilmitsani Allohu yarham, menceritakan tentang sosok Hasan al-banna sebagai Murabbi, bahwa halaqoh beliau yang kemudian dikenal dengan “kuliah selasa” sangatlah sederhana, seluruh mutarabbinya duduk di atas tikar putih, dan mereka disuguhi the dalam dua teko kecil, ini bukan karena beliau kikir, karena memang hanyalah itulah yang dapat beliau sediakan.



Imam Syahid sangat lembut , suka bergaul dan mudah dekat dengan orang lain. Beliau tidak pernah cemberut atau berpaling saat berbicara atau diajak bicara, sikap santun selalu menyertai pergaulannya baik dengan orang dewasa maupun anak kecil, bahkan beliau pernah memberikan ceramah di depan anak-anak sekolah dasar Mahmudiyah yang terletak di daerah Abbasiah, beliau berdiri di tengah-tengah mereka dan berbicara dengan mereka, seolah-olah belaiu bagian dari mereka. Beliau berbicara dan menggunakan bahasa yang dimengerti anak kecil. Ketika selesai beliau “dikeroyok” oleh anak-anak kecil tersebut seraya bergelantungan di tubuh beliau, seolah – olah tidak ingin berpisah dengannya. Ini adalah buah dari bahas lembut dan akhlak luhur yang tidak merasa risih dengan gurauan dan celotehan anak-anak kecil.



Allohu Yarhamuhu, Al-Ustadz hasan al-Hudhaibi Mursyid ‘am II, juga mempunyai keteladanan dalam hal mentarbiyah, diantaranya adalah kata-kata hikmahnya seperti “Nahnu Dhu’at laa Qudhot” (kami mengajak bukan memvonis), “Aqimiddaulata fii daarika taqum fii ardhika” (Tegakkanlah daulah di dalam rumahmu maka kelak akan tegak di negrimu). Selain itu apabila ada anggota Ikhwan yang bertengkar di hadapannya, beliau selalu mengucapkan perkataannya yang terkenal : “Apabila kalian berdua tidak sanggup memperbaiki hubungan yang ada di antara kalian, lalu bagaimana kalian bisa memperbaiki perselisihan yang terjadi pada orang lain”?. Dan di antara do’a yang paling sering meluncur dari mulut beliau adalah : “Ya Alloh pilihlah diriku menjadi hamba yang selalu taat kepadaMU”



Sebagai seoarang Murabbi, Imam As-Syahid Hasan Al-Banna bukanlah tipe orang yang kaku dan pelit senyum, sebagaimana diceritakan oleh Syekh umar Tilmitsani, bahwa suatu ketika ia diundang untuk makaan siang di kantor pusat. Sambil bercanda beliau berkata, “Hari ini kami jadi tukang masak, ayo makan siang bersama kami”. Di lain waktu ia diajak oleh Imam as-Syahid menghadiri sebuah acara, ketika makanan dihidangkan, ia melihat yang terhidang hanya telur goreng dan keju yang kelihatannya sudah kadaluarsa, lalu ia membisiki beliau seraya berkata : “Apaka anda mengajak saya ke tempat ini uuntuk membuat saya lapar”?. Sambil tersenyum beliau menjawab : “Diamlah, Semoga Alloh melindungimu”. Lalu beliau memanggil seorang akh, tak lama kemudian akh tersebut datang kembali dengan membawa daging goreng dan buah anggur. Sunguh beliau tidak memperlihatkan wajah yang tidak menyenangkan, meskipun Ustadz Umar tilmitsani sedikit membuatnya repot.



Sebagai seorang Murabbi Imam As-Syahid tidak hanya bersikap baik kepada kalangan ikhwah saja. Dalam suatu perjalanan beliau dengan sopirnya seorang al-akh, menjumpai sebuah kendaraan yang mogok, beliau menyruh sopirnya berhenti, lalu ia langsung turun dari mobilnya dan menanyakan apa yang dibutuhkan oleh laki-laki pemilik mobil tersebut, ternyata orang itu kehabisan bensin. Saat itu mobil belum ada klaksonnya yang ada hanya terompet terbuat dari logam yang diujungnya ada gelembungan karet, nah dengan gelembungan kare itulah beliau menuangkan bensin dari mobilnya dan beliau sendiri yang mengisinya ke dalam tangki mobil tersebut, dan haal itu dilekuakn berkali-kali, beliaun lakuak senua itu tanpa harus bertanya siapa, apa dar mmana dan agamanya apa kepada orang yang ditolongnya tersebut. Orang yang ditolongnya itu kemusdian berkata ; “Saya Muhammad Abdurrasul seorang hakim di kota Kairo, Anda ini siapa”? Imam as-Syahid menjawab dengan sikap rendah hati : “Saya hasan al banna, saya seorang guru sekalh dasar di As-sibtiyyah”. Orang itu kemudian berkata lagi : “Apakah anda hasan al-Banna Mursyid Ikhwanul Muslimin?”, “Ya”, jawab Imam as-syahid jujur. Sejak saat itu kemudian Ustadz muhammad abdurrasul tampil sebagai salah seorang juru bicara Ikhwanul Muslimin, di tengah rimba pengadilan. Inialah buah keteladan seoarang Murabbi yang tawaddu dan ikhlas.



Wallohu ‘alamu bisshowaab