Saturday, September 6, 2008

Ghuraba Tapi Gaul



Syaikh Saad al Ghamidi seorang aktifis Ikhwan, munsyid (penasyid) , hafizh dan qari terkenal yang murattalnya telah menyebar di negeri-negeri muslim, berkata dalam intro nasyid Arab yang sangat terkenal di kalangan aktifis harakah pada tahun 90-an berjudul Ghuraba yang dilantunkan oleh Syaikh al Ghamidi sendiri dalam album Ad Damaam 2:

Bukanlah orang asing itu yang berpisah dari negerinya. Tetapi orang asing itu adalah orang yang melihat manusia di sekitarnya bermain-main, ia membangunkan manusia sekitarnya yang tertidur, dan ia di atas jalan kebaikan ketika manusia di sekitarnya terbawa kesesatan. Benarlah perkataan penyair, ketika ia berkata:

Seorang sahabat berkata, engkau terlihat asing ..... Di antara manusia, engkau tidak memiliki kekasih ....... Aku berkata: sekali-kali tidak, bahkan manusia itulah yang terasing ..... Aku berada pada duniaNya dan mendapat petunjuk di atas jalanNya ...... Demikianlah orang terasing. Orang terasing di sisi manusia ia laksana terpenjara, tetapi ia mulia di sisi Rabb mereka.

Demikian Syaikh al Ghamidi

Mukadimah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing (gharib), dan akan kembali di anggap asing sebagaimana bermula. Maka beruntunglah orang-orang asing itu (ghuraba).” (HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah, juga dari Ibnu Umar namun tanpa kalimat “Beruntunglah orang-orang asing itu”. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud. Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Mas’ud, dan Anas. Imam Baihaqy dari Katsir bin Abdullah bin Auf, dari Ayahnya dari kakeknya. Imam Thabrani dari Salman, Sahl bin Saad as Saidi, dan Ibnu Abbas ridhwanullah ‘alaihim ajma’in)

Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang yang asing.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Imam Thabrani dari Sahl radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya, “Siapakah Ghuraba itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang melakukan perbaikan ketika orang-orang lain rusak.”

Dalam riwayat Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, maksud ghuraba adalah An Nuzza’ minal Qaba-il (Orang-orang yang memutuskan diri dari golongannya). Maksudnya tidak fanatik dengan golongannya. Dalam riwayat Imam Baihaqy dan Imam Tirmidzi yang lain , maksud ghuraba adalah “Orang-orang yang menghidupkan sunnahku dan mengajarkannya kepada manusia.”

Dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabrani, maksud ghuraba adalah “Manusia shalih yang sedikit di antara manusia yang banyak. Orang yang menentang mereka lebih banyak di banding yang mentaati mereka.”

Syaikh Saad al Ghamidi seorang aktifis Ikhwan, munsyid (penasyid) , hafizh dan qari terkenal yang murattalnya telah menyebar di negeri-negeri muslim, berkata dalam intro nasyid Arab yang sangat terkenal di kalangan aktifis harakah pada tahun 90-an berjudul Ghuraba yang dilantunkan oleh Syaikh al Ghamidi sendiri dalam album Ad Damaam 2:

Bukanlah orang asing itu yang berpisah dari negerinya. Tetapi orang asing itu adalah orang yang melihat manusia di sekitarnya bermain-main, ia membangunkan manusia sekitarnya yang tertidur, dan ia di atas jalan kebaikan ketika manusia di sekitarnya terbawa kesesatan. Benarlah perkataan penyair, ketika ia berkata:

Seorang sahabat berkata, engkau terlihat asing

Di antara manusia, engkau tidak memiliki kekasih

Aku berkata: sekali-kali tidak, bahkan manusia itulah yang terasing

Aku berada pada duniaNya dan mendapat petunjuk di atas jalanNya

Demikianlah orang terasing. Orang terasing di sisi manusia ia laksana terpenjara, tetapi ia mulia di sisi Rabb mereka. Demikian Syaikh al Ghamidi

Gharib Bukan ‘Uzlah

Ada perbedaan mendasar antara غريب(gharib - terasing) dengan عزلة (‘uzlah – mengasingkan diri). Gharib dalam konteks ini adalah orang yang terasing karena masyarakatnya yang menganggapnya asing, walau ia hidup di tengah masyarakat dan bagian dari mereka, dan ia tidak menjauh dari masyarakat. Sedangkan uzlah adalah orang yang memisahkan diri (i’tizal) dari masyarakat, ia sendiri yang lari dari masyarakat, bukan masyarakat yang menjauh darinya.

Ya, jadilah ghuraba (orang-orang terasing), bukan karena kita pendatang baru di kampung halaman, melainkan karena kita memegang teguh prinsip-prinsip agama, di tengah masyarakat yang telah melupakan agama. Manusia yang memegang teguh sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di tengah masyarakat yang tidak kenal siapa sosok nabinya, bahkan istihza (memperolok-olok) sunahnya. Memegang teguh akhlak dan adab Islam, di tengah masyarakat yang terpukau dengan akhlak dan adab Barat yang sekuler dan liberal, atau akhlak dan adab timur yang sinkretisme. Memegang teguh solusi Islam di tengah masyarakat yang lebih mempercayai solusi Barat atau sebaliknya, ucapan para dukun dan penyihir timur. Memegang teguh fikrah Islam di tengah masyarakat yang terpesona fikrah filsafat. Kita terasing di kampung sendiri karena ini, terasing di kantor karena ini, terasing di parlemen karena ini, terasing di kampus karena ini, bahkan terasing di keluarga sendiri karena ini; karena apa? karena Islam yang kita bawa. Bukan karena kita lari dari mereka. Bukan pula karena kita tidak mengenalkan diri. Mereka telah mengenal kita dan keluarga kita dengan baik, telah mengenal aqidah kita, keimanan, fikrah, akhlak dan adab, serta solusi yang kita bawa, justru karena itu kita dianggap asing. Apa yang kita bawa dan tanamkan, dianggapnya bertentangan dengan kebiasaan, adat, tradisi, kepentingan, dan hawa nafsu mereka. Terasing bukan karena kita menjauh, terasing karena nilai kebaikan yang kita bawa telah menjadi hal yang aneh dan ‘baru’ bagi mereka karena kemalasan mereka mengkaji agama, atau sikap apatis (cuek) dan apriori terhadap agama. Lebih dari itu, apa yang kita bawa menjadi ancaman bagi keadaan status quo mereka.

Kalau kita telah mengalami ini, di mana saja kita beraktifitas da’wah, lalu kita bersabar atas segala macam cobaan dan fitnah manusia, maka mudah-mudahan kita termasuk golongan ghuraba, bukan golongan yang kabur dari keadaan.

Berbaur Lebih Utama Dibanding Uzlah

Imam an Nawawi dalam kitabnya yang terkenal, Riyadhus Shalihin min Kalami Sayyidil Mursalin, membuat bab yang sangat panjang, Keutamaan berbaur dengan manusia dan menghadiri perkumpulan dan jamaah mereka, menyaksikan kebaikan dan majlis dzikir bersama mereka, menjenguk orang sakit, dan mengurus jenazah mereka. Memenuhi kebutuhan mereka, membimbing kebodohan mereka, dan lain-lain berupa kemaslahatan bagi mereka, bagi siapa saja yang mampu untuk amar ma’ruf nahi munkar, dan menahan dirinya untuk menyakiti, serta bersabar ketika disakiti.

Imam an Nawawi berkata, “Ketahuilah, bergaul dengan manusia dengan cara seperti yang saya sebutkan, adalah jalan yang dipilih oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan seluruh Nabi Shalawatullah qwa Salamuhu ‘Alaihim, demikian pula yang ditempuh oleh Khulafa’ur Rasyidin, dan orang-orang setelah mereka dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang setelah mereka dari kalangan ulama Islam dan orang-orang pilihannya. Inilah madzhab kebanyakan dari tabi’in dan orang-orang setelah mereka, ini pula pendapat Asy Syafi’i dan Ahmad, dan kebanyakan fuqaha radhiallahu ‘anhum ajma’in. Allah Ta’ala berfirman: “Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan” (QS. Al Maidah: 2) Ayat-ayat dengan makna seperti yang saya sebutkan sangat banyak dan telah diketahui. (Imam an Nawawi, Riyadhush Shalihin, hal. 182. tahqiq oleh Muhammad Ishamuddin Amin. Maktabatul Iman, Al Manshurah)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Orang mu’min yang bergaul dengan manusia dan sabar menghadapi gangguan mereka, lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tak sabar menghadapi gangguan mereka. “(HR. Imam Bukhari dalam Adabul Al Mufrad, Imam At Tirmidzy, dan Imam Ahmad)

Keutamaan bergaul dengan masyarakat merupakan pilihan hidup dari para Imam, ini pula pandangan yang dianut oleh Said bin al Musayyab, Qadhi Syuraih, Amr bin asy Sya’bi, Abdullah bin Mubarak, dan lain-lain. Inilah pilihan para ulama masa kini, padahal zaman semakin rusak, namun mereka turun gunung untuk ikut memperbaiki keadaan. Bukan justru lari dari kenyataan.

Demikianlah, sifat ghuraba tidaklah menghalangi kita untuk tetap bergaul dan berda’wah di tengah masyarakat, dan bertahan dari fitnah dan kerusakan mereka, serta menahan diri untuk menyakiti mereka. Dan, makna ghuraba menurut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Sahl bin Saad as Saidi, adalah “Orang-orang yang melakukan perbaikan di tengah masyarakat yang rusak.

” Kapan ‘Uzlah lebih Utama?

Uzlah bisa lebih utama di banding bergaul dengan masyarakat jika kerusakan telah merata dan celah untuk melakukan perbaikan sangat sempit dan sulit. Justru yang terjadi adalah para da’i itu yang tertimpa fitnah, bencana, dan kerusakan. Sedangkan para da’i pun tidak mampu membendung itu semua. Inilah pandangan yang diikuti mayoritas ahli zuhud seperti Ibrahim bin Ad-ham, Sufyan ats Tsauri, Daud ath Tha’iy, Fudhail bin ‘Iyyadh, Bisyr al Hafy, dan lain-lain. Imam an Nawawi pun membuat bab dalam Riyadhus Shalihin-nya berjudul, Dianjurkannya Uzlah ketika zaman telah rusak atau takut tertimpa fitnah dunia, hal-hal haram, syubhat, dan lain-lain (Ibid, hal. 181)

Hujjah (argumentasi) kelompok ini adalah Allah Ta’ala berfirman: “Maka bersegeralah kembali kepada Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz Dzariyat: 50

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, kaya (hati), dan tersembunyi.” (HR. Muslim)

Dari Abu Said al Khudri radhiallahu ‘anhu ia berkata, bertanyalah seorang laki-laki, ‘Manusia apa yang paling utama ya Rasulullah?’, Beliau menjawab, “Mu’min yang berjihad dengan dirinya dan hartanya.” Laki-laki itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, “Seseorang yang uzlah menuju celah bukit lalu ia menyembah Rabbnya.” Dalam riwayat lain, “Ia meninggalkan manusia karena keburukannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Umar radhiallahu ;anhu berkata, “Ambil-lah bagian untuk kalian ber- ‘uzlah.”

Daud ath Tha’iy rahimahullah berkata, “Hindarilah manusia sebagaimana engkau lari dari singa.”

Saad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku ingin andai saja antara diriku dan manusia ada sebuah pintu besi, sehingga tak seorang pun berbicara denganku dan aku pun tidak bicara dengannya, hingga aku berjumpa dengan Allah.

Manfaat Bergaul Dengan Manusia

Imam Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin menyebutkan beberapa kentungan bergaul dengan manusia:

1. Belajar dan mengajar

Ar Rubayyi bin Khaitsam berkata, “Belajarlah lalu uzlah-lah, karena ilmu itu merupakan dasar agama. Tidak ada kebaikan dalam uzlahnya orang-orang awam.”

Seorang ulama ditanya, “Apa pendapatmu tentang uzlahnya orang bodoh?” Dia menjawab, “Itu sama dengan kehancuran dan bencana.”

Orang itubertanya lagi, “Lalu bagaimana dengan uzlahnya orang berilmu? Ulama tersebut menjawab, “Engkau tidak perlu peduli dengannya. Biarkan saja uzlahnya itu. Dia sendiri yang menanggung penderitaan dan kenistaannya. Dia menolak minum air segar, hanya minum dari daun-daun kering hingga berjumpa dengan Allah", Sedangkan mengajarkan ilmu adalah salah satu amal paling utama dalam Islam, sebagaimana mencari ilmu.

2. Mengambil dan Memberi Manfaat

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. “ (HR. Muslim)

Hadfits ini tidak bisa kita amalkan tanpa bergaul dengan manusia, dan Rasulullah sendiri menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya (anfa’uhum linnas).

3. Melatih diri sendiri dan membimbing orang lain

Bergaul dengan manusia merupakan sarana berlatih kesabaran, menata jiwa dan emosi, serta menundukan hawa nafsu, karena ia harus menghadapi berbagai karakter manusia. Adapun membimbing manusia sama halnya dengan mengajarkan ilmu kepada mereka, dengan segala macam bentuk dan kendalanya.

4. Mendapat pahala dan Membuat orang lain mendapat pahala

Bergaul dengan manusia membuat anda dapat saling mengunjungi, menjenguk orang sakit, mengurus jenazah, memenuhi kebutuhan, mengundang jamuan makan atau mendatangi undangan. Ini semua tentu tidak syak lagi adalah ladang amal shalih yang memiliki ganjaran yang besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla bagi pelakunya atau orang lain.

5. Tawadhu

Sifat ini tidak akan muncul jika seorang menyendiri. Bisa jadi uzlah dilakukan karena kesombongan, merasa bersih, dan suci, sedangkan orang lain kotor dan rusak. Itulah yang membuatnya hilang ketawadhuan dan husnuzh zhan dengan manusia.

Terakhir, Imam Asy Syafi’i radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Mengisolir diri dari manusia bisa mendatangkan permusuhan dan membuka diri kepada manusia bisa mendatangkan keburukan. Tempatkan dirimu di antara mengisolir dan membuka diri. Siapa yang mencari selainnya maka dia tidak tepat, dia hanya mau tahu terhadfap dirinya semdiri dan dia tidak layak membuat ketetapan untuk orang lain"

Wallahu A’lam walillahil ‘Izzah

Monday, September 1, 2008

Berinteraksi Da^awi dengan Masyarakat



Ketika berinteraksi di tengah masyarakat, janganlah pernah kita menunjukkan sikap yang mentamyiz /membeda-bedakan( diskriminatif ) terhadap ikhwah dan bukan ikhwah atau aktifis dakwah dan bukan aktifis dakwah , misalnya ketika bersalaman dengan sesama kader kita melakukannya dengan hangat bahkan sambil berpelukan, tetapi di tempat dan acara yang sama bersalaman dengan yang belum kader, kita melakukannya dengan biasa saja, bahkan terkesan agak dingin. Apakah cara ini bisa meraih simpati? Mungkin yang terjadi malah sebaliknya. Padahal kita mengetahui dari taujih Nabawi bahwa “Idkhalus surur Shadaqah“ memberikan suatu perlakuan yang mubah tapi menyenangkan orang lain adalah shadaqah.

Di dalam tahun pemenangan (‘Am Intikhabi) ini, tepat jika kita mengaplikasikan “Itsar” dengan cara mendahulukan atau mengutamakan jumhur (masyarakat) daripada ikhwan atau akhwat, misalnya dalam membagi fasilitas yang Allah berikan kepada kita, tidak lagi diputarkan di lingkungan terbatas(baca: ikhwah) tetapi dengan memberikan bagian kita kepada tetangga yang disekitar kita

Ikhwah fillah…

Sudah seharusnya kita memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya karena atas karunia-Nyalah kita menjadi orang-orang yang beriman di jalan-Nya. Allah telah menyelamatkan kita yang nyaris terperosok dan terdampar di jalan menuju neraka, di jurang-jurang bencana yang menganga di berbagai sudut kehidupan. Semangat syukur ini hendaknya mampu menjadikan perasaan kita semakin kuat dalam memiliki dakwah dan jamaah ini. Selain itu kita pun semakin memiliki kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama ikhwan dan anggota masyarakat. Hal itu tak dapat kita pungkiri karena setiap kader dakwah pertama kali lahir secara biologis dan sosiokultural dari rahim masyarakat, dan dilahirkan kembali secara tarbawi dalam rahim dakwah yang mubarakah, Insya Allah. Kini setelah menjadi kader dakwah, kita adalah pelaku dakwah yang harus menebarkan berbagai kebaikan kepada seluruh manusia sebagai rahmat untuk semesta alam. Dalam konteks ini, kita harus mendahulukan masyarakat yang ada di sekeliling kita, atau yang berada paling dekat dengan kita karena dengan merekalah kita berinteraksi sehari-hari. Seorang kader dakwah itu berasal dari masyarakat, tertempa oleh dakwah dan bermanfaat untuk masyarakatnya.

Ikhwah fillah…

Al-Qur'an tidak pernah menyebutkan ungkapan yang menyiratkan makna bahwa ada jarak antara dai dengan masyarakatnya karena para dai adalah pewaris Nabi saw yang digambarkan dengan ungkapan, “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul (dai) dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.“ ( At-Taubah: 128 )

Dari masyarakatlah kita berasal dan untuk mereka pula kita datang sehingga sudah seharusnya kita memiliki ikatan emosional yang dalam terhadap persoalan mereka serta mempunyai keinginan yang kuat untuk memperbaiki dan menyelamatkan mereka dengan bahasa kasih sayang.

Ikhwah fillah...

Renungkanlah, betapa ketinggian akhlaq Rasulullah Muhammad saw dalam berinteraksi dengan masyarakatnya sebagaimana dituturkan oleh istri beliau, Khadijah ra, “ Engkau sungguh gemar bersilaturahim, senang membantu, memuliakan tamu, menyantuni orang yang kekurangan, dan tampil membela siapa saja di dalam kebenaran”.

Hal tersebut di atas menjadikan beliau sebagai sosok yang dipercaya oleh semua orang karena masyarakat merasa dekat dan memperoleh perhatian yang baik dari Rasulullah saw.

Ikhwah fillah…

Ada beberapa kunci yang harus kita perhatikan dalam membangun interaksi di tengah masyarakat. Kunci pertama, hendaknya kita dapat memposisikan setiap orang sesuai dengan kedudukannya dan dengan bahasa yang digunakan oleh mereka, sebagaimana sabda Rasul saw, “Ajaklah manusia dengan bahasa kaumnya dan ajaklah manusia sesuai dengan kemampuan berpikir mereka.”

Kunci kedua, hendaknya kita dapat meyakinkan masyarakat bahwa kita adalah orang yang tak pernah ragu untuk berkorban manakala diperlukan. Berbuatlah, agar masyarakat merasakan bahwa keberadaan kita amat bermanfaat bagi mereka, sebagaimana ungkapan Imam Asy-syahid, "Kegemaran kami adalah bertadhhiyah untuk masyarakat. Dan kita telah ditakdirkan untuk memenuhi kepentingan masyarakat.”

Kunci ketiga, hendaknya kita senantiasa berlapang dada terhadap kejahilan mereka seperti berlapang dadanya orang tua terhadap kesalahan anaknya. Sikap lapang dada ini harus kita tunjukkan dengan cara tidak mempersoalkan hal-hal yang tidak menyenangkan pada diri mereka, mudah memaafkan, serta gemar mendoakan. “Tidakkah engkau ingin Allah mengampuni setiap kesalahanmu”. ( An-Nuur: 22 ).

kunci keempat, hendaknya kita menunjukkan sikap atau perilaku santun dan lembut (“liin”) karena kelembutan dan kehalusan adalah hiasan yang berlaku di manapun dan untuk siapa saja. Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada kelembutan pada sesuatu kecuali menjadi penghias, dan tak dicabut dari sesuatu kecuali menjadikannya buruk“.

Keempat kunci interaksi tersebut Insya Allah menjadi “mafaatih “ atau kunci-kunci hati karena kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan melalui pintu hati mereka, sebagaimana dalam kaidah dakwah dinyatakan “Rebutlah hati mereka dahulu sebelum mengharapkan dukungan mereka“.

Ikhwah fillah...

Ketika berinteraksi di tengah masyarakat, janganlah pernah kita menunjukkan sikap yang mentamyiz /membeda-bedakan( diskriminatif ) terhadap ikhwah dan bukan ikhwah atau aktifis dakwah dan bukan aktifis dakwah , misalnya ketika bersalaman dengan sesama kader kita melakukannya dengan hangat bahkan sambil berpelukan, tetapi di tempat dan acara yang sama bersalaman dengan yang belum kader, kita melakukannya dengan biasa saja, bahkan terkesan agak dingin. Apakah cara ini bisa meraih simpati? Mungkin yang terjadi malah sebaliknya. Padahal kita mengetahui dari taujih Nabawi bahwa “Idkhalus surur Shadaqah“ memberikan suatu perlakuan yang mubah tapi menyenangkan orang lain adalah shadaqah.

Di dalam tahun pemenangan (‘Am Intikhabi) ini, tepat jika kita mengaplikasikan “Itsar” dengan cara mendahulukan atau mengutamakan jumhur (masyarakat) daripada ikhwan atau akhwat, misalnya dalam membagi fasilitas yang Allah berikan kepada kita, tidak lagi diputarkan di lingkungan terbatas(baca: ikhwah) tetapi dengan memberikan bagian kita kepada tetangga yang sedang kita bina.

Mereka sebenarnya mempunyai hak lebih daripada sesama kader dakwah untuk dipedulikan. Untuk mereka, kita harus memberikan hak ukhuwah dan hak dakwah, sedang untuk kader, cukuplah hak ukhuwah karena mereka sudah berada di dalam barisan dakwah dan menjadi pewaris Rasulullah Saw sebagai dai. Hal ini mengingatkan kita kepada para sahabat Anshar yang mulanya kurang puas dengan porsi ghanimah yang mereka terima karena mereka tahu orang-orang yang masih baru bergabung dengan Islam (baca: yunior) mendapat bagian lebih banyak. Kemudian Rasulullah mengumpulkan mereka dan bersabda, "Apakah kalian tidak puas kita berikan bagian yang cukup banyak itu untuk menta-lif ( menyenangkan ) hati mereka dalam Islam sedangkan kalian telah mendapatkan Rasulullah di tengah-tengah kalian?” Mereka pun lalu menangis sambil mengatakan, “Kami ridha dengan Rasulullah bersama kami.” Dan Rasulullah pun mendoakan, "Ya Allah, rahmatilah kaum Anshar dan anak cucu kaum Anshar.” Doa nabawi ini semakin membuat mereka larut dalam isak tangis keharuan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd..